Senin, 01 November 2021

BELAJAR DARI INSAN PENEBAR KEBAIKAN

Keluar Sangkar


Dia adalah orang biasa, seorang pembelajar yang tak pernah mengenal dunia luar sebelumnya. Yang ia tahu hanyalah mempelajari segala sesuatu yang berada dalam jangkauan sekitar. Yang ia tahu hanyalah belajar dari formalnya bangku sekolahan. Yang ia tahu hanyalah belajar dari buku-buku yang tersedia di perpustakaan. Ia hanyalah seseorang yang lugu tanpa tau bahwasanya dunia begitu luas dengan segala ilmunya. Ia tak tahu bahwa apa yang dipelajarinya selama ini hanyalah setetes air di lautan.

Ia tak pernah menyangka, takdir akan membawanya keluar untuk mencoba mengarungi ganasnya ombak dunia. Padahal awalnya hanya mencoba-coba untuk sekadar formalitas pengisian data, meski ada setitik harapan di dalamnya. Akhirnya, setelah memantapkan setengah hati dan ingin menjajal pengalaman baru, ia keluar dari zona yang selama ini membatasinya. Meski awalnya ia ragu, namun kini ia yakin bahwa itulah jalan yang ditunjukkan oleh Tuhan untuk dilalui.

Pada kenyataannya, ia sangat berhati-hati dan selalu waspada. Ia bertekad tak ingin mengulangi kesalahan si sulung yang gampang tergoda dengan bujuk rayu menjanjikan, yang akhirnya menenggelamkan orang-orang di sekitarnya. Sang ibunda pernah berpesan, dunia luar sangatlah berbahaya. Apalagi saat itu isu panas mengenai kelompok-kelompok tertentu sedang menghantui. 

Dalam wilayah yang sama sekali tak ia kenal, ia berharap bertemu dengan lingkungan yang mendukungnya. Di sana, ia menjumpai berbagai macam manusia dengan berbagai karakter. Menjumpai berbagai hal baru yang tak terkira. Namun dari situ ia tahu, betapa dalam dan banyak ilmu yang dapat dipelajari. Belajar dari keadaan, ia sadar bahwa seseorang harus punya prinsip dan pondasi yang kokoh agar mampu bertahan setelah diterpa badai di sana-sini.

Seorang bungsu akhirnya memilih untuk menjajal dunia yang sebelumya belum pernah ia lalui. Mencoba berbaur dengan orang-orang yang selalu mengingatkannya pada kebaikan. Ia menjadi lebih dewasa dalam pemikiran. Pun ia memang bukan seorang manja karena sudah terbiasa dengan kerasnya zaman. Berfikiran terbuka dan mencoba menerima hal-hal baru, meski masih membatasi diri agar tidak terbawa arus. Yang ia takutkan adalah menjadi seseorang yang salah memilih jalan. Beruntungnya, orang-orang di sekitarnya selalu membentengi saat ia salah melangkah, entah sengaja atau tidak.

Setelah bersama saling menopang, kini waktunya untuk terbang pergi menebar kebaikan di tempat yang berbeda. Meski tanpa bertemu, ia mengagumi setiap manusia yang masih berbagi ditengah kesibukan dalam dunianya. Ada kekaguman pada mereka yang masih konsisten pada tujuan. Meski beberapa sayap patah, meski beberapa berhenti, merekalah yang terus berjuang pasti akan memetik manisnya buah keikhlasan.

Semoga kelak dipertemukan kembali dalam ikatan-ikatan kebaikan.

25102021-08:09

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank you for visiting my blog :)